Sekedar mampir di ruangan ini. Ruangan yang hingar bingar, berantakan dan sedikit bau peluh sore dan hembusan aroma sepatu.

Ruangan ini semarak sekali, semua orang bersorak, tertawa gembira. Aku ingin bertanya? pernahkah ruangan ini disesaki isak tangis penghuninya? Aku bertaruh pada diri sendiri, tidaklah mungkin.
Sekedar mampir di ruangan ini. Ruangan yang sudah minta untuk disapu, dipel sekalian biar rapih. Hei, adakah para penghuni membutuhkan bersih, jika hati-hati disini sudah tak terusik debu setitik.
Ruangan ini begitu idelais, realis, magis, aku pikir ruangan ini punya penyedot debu raksasa yang bersembunyi di balik dinding centang perenang dengan ragam poster dan graffiti. Menyedot rasa hampa, sedih, marah, putus asa, sepertinya perasaan yang buruk tak dizinkan dihirup oleh para penghuninya.

Sekedar mampir di ruangan ini. Ruang yang hingar bingar, berantakan dan sedikit bau peluh sore dan hembusan aroma sepatu.

Ajaib sekali ruangan ini. Hanya sekedar ruang yang polos tanpa rias, dan kau lihat? di sudut ruang cuma didekor tumpukan kardus. Tetapi di setiap lobang di dinding, mengalirkan semangat yang meluap-luap, mengendap di lantai yang kesat, menyisir hingga ke pinggir ruang yang sekian senti dibiar kosong. Ruang ini terasa semakin silau dengan wajah penghuni yang berseri, gurat letih tersembunyi, sahutan kelakar tak henti. Mereka dan ruangan ini cantik layaknya pelangi. Terikat kompak dalam kepal derap serempak.

Sekedar mampir di ruangan ini. Ruang yang hingar bingar, berantakan dan sedikit bau peluh sore dan hembusan aroma sepatu.

Aku takjub…

Puisi kenangan Rumah Transformasi BEM ITS
Kejawan Gebang, 18 Oktober 2012

About these ads